Archive for the ‘Profil’ Category

Profil di Wahid Institute

Lingkar Studi-Aksi untuk Demokrasi Indonesia (LS-ADI), adalah lembaga yang menaruh keprihatian utama pada dua aspek; Demokratisasi Indonesia dan Pluralisme serta Inklusifisme Islam. Demokratisasi Indonesia dan inklusifisme Islam, bagi LS-ADI merupakan dua hal pokok yang tak bisa ditawar lagi untuk diperjuangkan dan ditegakkan dalam kehidupan kenegaraan dan kemasyarakatan.

Begitu mendasarnya kedua hal di atas bagi para eksponen LS-ADI, sehingga mereka menggagas sejumlah kegiatan dengan mengusung tiga tema utama: Agama dan Demokrasi, Globalisasi dan Utang dan Militerisme dan Militerisasi Sipil. Gagasan-gagasan ini kemudian dielaborasi dalam beberapa kegiatan utama seperti Penerbitan Buletin Jum’at untuk Masjid di Jakarta, Pemberdayaan Jaringan Remaja Masjid, dan Aksi dan Advokasi isu-isu Nasional. Kegiatan-kegiatan lain yang dilakukan adalah Pelatihan Advokasi Mahasiswa, Advokasi RUU Anti Terorisme dan Militerisme dan Pendidikan Gratis untuk Pemulung.

Dalam menjalankan program-programnya lembaga yang didukung oleh sekitar 60 aktivis ini menjalin kerjasama dengan sejumlah mitra antara lain Ikatan Remaja Masjid di Jakarta (12 IRMA), ISAI, Koalisi Anti Utang (KAU), Koalisi untuk Keselamatan Masyarakat Sipil, Koalisi Anti Penindasan Buruh (KAPB). Dalam berbagai kegiatan tersebut LS-ADI baru memiliki satu Mitra Funding Agency yaitu The Asia Foundation.

Beberapa organisasi yang selama ini telah berjaringan dengan LS-ADI antara lain Lakpesdam NU, IRM (Ikatan Remaja Muhammadiyah), PII (Pelajar Islam Indonesia), ISAI, Imparsial, Kontras, IKOHI (Ikatan Orang Hilang Indonesia), LMND (Liga Mahasiswa Nasional Demokrat), IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, FNPBI (Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia).

Sebagai lembaga yang mulai memiliki banyak kegiatan, LS-ADI memiliki sejumlah kesulitan organisasi ketika melaksanakan program, diantaranya adalah lemahnya kemampuan berbahasa Inggris, lemahnya Sumber Daya Manusia dan juga minimnya sumber dana. Karena itu jika ada tawaran bantuan peningkatan capacity building, LS-ADI akan memanfaatkan program tersebut untuk meningkatkan kualitas SDM, khususnya kemampuan Bahasa Inggris, pelatihan-pelatihan capacity building, pembenahan infrastruktur dan suprastruktur.

  • sumber
  • Profil LS-ADI

    Sekitar tahun 1990-an, aktivitas mahasiswa dalam lembaga formal seperti organisasi-organisasi kampus maupun di luar kampus, seperti yang telah kita ketahui, dimandulkan oleh Orde Baru. Pemandulan ini menjadikan mahasiswa mencari format baru bentuk apresiasi kebebasan mereka dengan bentuk alternatif lain yang lebih strategis, walaupun pada saat bentuk perjuangan berada di simpang jalan akibat kegagalan demi kegagalan yang mereka dapati pada angkatan-angkatan sebelumnya ketika berhadapan dengan kekuasaan rezim Orde Baru.

    Muncul kemudian kelompok-kelompok studi sebagai wadah alternatif untuk mengaspirasikan kreasi sekaligus wadah perjuangan mahasiswa dalam format yang baru, dan berharap format tersebut sebagai “wadah yang strategis” (seperti yang telah tercatat dalam sejarah bahwa beberapa tahun kemudian hal ini telah terbukti). Kelompok studi ini kemudian menjamur dan menjadi “trend” di kalangan mahasiswa di kota-kota besar khususnya di pulau Jawa, seperti Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Semarang, Surabaya dan lainnya.

    Kelompok studi dipilih sebagai “wadah yang strategis” dengan alasan bahwa kelompok studi bisa dibentuk oleh siapa pun mahasiswa, cenderung anti-birokratis dan tidak dapat dikontrol oleh pemerintah. Andai pun bisa, tetap dapat tumbuh lagi, kapan dan di mana pun, walaupun harus berpindah-pindah ketika rezim mulai mencium aroma makar gerakan mahasiswa.

    Kegiatan kelompok studi tersebut, yang mayoritas berbentuk forum diskusi, berkisar seputar masalah sosial, ekonomi, budaya, maupun agama. Persoalan politik saat itu belum gencar sebab masih terselimuti oleh polesan keberhasilan pembangunan Orde Baru Namun sejak tahun 1995 ke atas, ketika persoalan-persoalan yang mengindikasikan ketimpangan sosial kian menguat, ketidakadilan muncul dimana-mana, dan rezim mulai mempertontonkan sifat otoritarian–nyaris fasis–nya, wacana-wacana politik kemudian menjadi gencar, bersamaan dengan kajian-kajian yang berkaitan dengan persoalan kemiskinan dan ketimpangan sosial.

    Mahasiswa mulai menunjukkan “taring” nya ketika pola perjuangan dan kritisisme mahasiswa terhadap ketimpangan-ketimpangan sosial, ekonomi, politik dan lainnya berkisar hanya pada kajian saja, ataupun bertumpu pada pergerakan pada tataraan konseptual, tetapi juga diimplementasikan pada satu gerakan yang lebih dari itu untuk menjadi roda bagi berjalannya rumusan konseptual dan teoritis tersebut.

    Dalam konteks seperti itulah LS-ADI lahir. LS-ADI kemudian merumuskan dan memfokuskan diri untuk studi sekaligus aksi. Studi diorientasikan untuk merumuskan konsep ideal dan sistematis bagi pencapaian demokrasi. Disamping juga refleksi, evaluasi, dan studi kritis tentang realitas sosial politik di Indonesia. Aksi dimaksudkan untuk menjalankan seluruh format teoritis dalam kerja yang sistematis dan terarah sebagai upaya mendorong pencapaian demokrasi.