Archive for Juli, 2006|Monthly archive page

Kedubes Arab Saudi Di Jakarta Didemo

Kedubes Arab Saudi Di Jakarta Didemo
22 Juli 2006 Sabtu | Oleh : BUY

KEDUTAAN Besar (Kedubes) Ke­rajaan Arab Saudi di Jakarta, kem­bali didemo para peng­unjuk­rasa yang mendesak negara yang sedang menikmati mahalnya harga minyak dunia itu, tidak ting­gal diam dan melakukan aksi nyata menghentikan kebrutalan invasi Israel ke Palestina dan Libanon.

Setelah didemo Hizbut Tahrir sehari sebelumnya, puluhan anak muda dari LS-ADI, HMI MPO Ca­bang Jakarta Selatan, BALFAS, ISMAD yang terga­bung dalam aksi Solidaritas Untuk Libanon dan Palestina mendemo Kedubes Arab Saudi, kemarin siang.

“Seharusnya pemerintahan Arab Saudi tidak tinggal diam. Ti­dakkah Arab Saudi memiliki rasa malu atas sikapnya yang membiar­kan muslim Palestina menderita sendirian akibat kekejaman Ya­hudi Israel? Padahal sebagai ‘pela­yan’ kota suci Makkah dan Madi­nah serta tempat Islam pertama kali hadir, Arab Saudi seharusnya me­respon dengan aksi nyata tun­tutan umat Islam dunia yang me­ngu­tuk dan menginginkan derita muslim Palestina dan Libanon berakhir,” teriak salah seorang penjunjuk rasa dalam orasinya.

Selain menggelar orasi, puluh­an pengunjukrasa itu juga mem­ben­tangkan spanduk dan poster yang di antaranya bertuliskan tun­tutan, “Dunia Bukan Milik Ban­­g­sa Yahudi,” “Boikot Pro­duk-pro­duk Pro-Zionis,” “Saudi Ara­bia, Seharusnya Engkau Mem­bantu Umat Islam,” “Wahai Arab, Di­mana Uhkwah Islami­yah­mu.”

Di tengah unjukrasa, seorang petugas Kedubes menghampiri para pengunjukrasa untuk mem­be­ritahukan, pihak Kedubes mau ber­dialog dengan perwakilan peng­unjukrasa.

Sesaat kemudian, koordinator aksi, Ray Rangkuti masuk ke da­lam Kedubes ditemani empat orang rekannya untuk bertemu menyampaikan tuntutan kepada Kuasa Usaha Kerajaan Arab Sau­di untuk Indonesia, Dr. Abdullah Qusyairy. Pihak Kedubes tidak mengizinkan wartawan meliput pertemuan yang berlangsung sekitar 45 menit itu.

Usai melakukan pertemuan, Ray kembali menemui para re­kan­nya yang berunjukrasa di pin­tu gerbang Kedubes untuk me-nyam­paikan hasil pertemuan.

“Selain menyampaikan sikap prihatin terhadap Palestina, da­lam pertemuan itu kami juga mem­­pertanyakan sikap Arab Sau­­di dan negara-negara Arab lain­nya yang cuma diam menyak­sikan Palestina dan Suriah diin­vasi secara brutal oleh Israel,” ka­ta Ray melalui pengeras suara ke­pada rekan-rekannya.

Tentang tanggapan Kedubes, jelas Ray, Dr. Qusyairy menga­takan berterimakasih karena telah diingatkan agar tidak tinggal diam dan membantu Palestina dan Libanon. Selanjutnya, jelas Ray, Qusyairy mengatakan, Ke­rajaan Arab Saudi telah mel­a­kukan sejumlah hal dimasa lalu untuk membantu Palestina.

“Dia bercerita panjang lebar tentang bantuan yang pernah diberikan Kerajaan Arab Saudi kepada Palestina, itu saja yang diulang-ulang dalam pertemuan tadi. Lalu saya sampaikan, saat ini Kerajaan Arab Saudi tidak mela­kukan tindakan nyata apa-apa un­tuk membantu rakyat Pa­lestina dan Suriah yang diinvasi Israel saat ini. Kalau hanya me­ngutuk, se­mua negara Islam du­nia me­ngutuk. Tapi Arab Saudi dan ne­gara-negara Arab lainnya ha­rus me­lakukan tindakan nyata, jangan hanya tinggal diam,” kata Ray.

Mendengar itu, tambah Ray, Qusyairy berjanji peme­rintah­annya akan melakukan langkah-langkah nyata dalam satu atau dua minggu ini untuk membantu ma­syarakat Palestina dan Li­banon.

“jika dalam dua ming­gu Kera­jaan Arab Saudi tidak melakukan tindakan nyata membantu Pales­tina dan Liba­non, kami akan da­tang lagi de­ngan massa yang jauh lebih besar,” tandas Ray. RM

sumber

Lisa Noor Humaidah

tante-lisa.jpgLahir di Pati, menggembleng diri di Kota Kretek Kudus, lalu menenggelamkan dirinya dalam kesibukan Sastra Arab di Ciputat.

Sebelum berkantor tetap dan konon sempat disebut-sebut sebagai calon komisioner di Komnas Perempuan, ia sempat berkantor di banyak tempat; al-Tasamuh, Kapal Perempuan, dan kontributor Majalah Pantau.

Gadis yang satu ini memiliki kepekaan gender yang tinggi. Jadi, hati-hati ngomong sama dia.

bersambung…

=================== 

Kliping Berita dan Artikel

kali ini, sunyi

kali ini, sunyi

tak ada suara

angin menghilang

kota ini mati

serasa.

secarik kopi, sebatang rokok

tak mampu membunuh sunyi

tak ada bunyi diantara suara

tak ada emosi diantara deru mesin,

serasa.

kali ini sunyi

seperti duduk di atas batu kali pegunungan

tapi aku tak menemukan angin.

–perempuan datang memberikan selembar daun, diam tak berkata–

kali ini, sunyi.

19/7/06