Sewindu Tragedi Trisakti

Sewindu Tragedi Trisakti
Dikirim oleh : JA – Jakarta IMC
Pada tanggal : 15-05-2006, 20:16
jakarta / hak asasi manusia / feature

DPR goblok.. DPR goblok.. bubarin aja.. menjadi yel-yel yang terus dikumandangkan sepanjang aksi mahasiswa di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam rangka memperingati sewindu tragedi Trisakti (12 Mei 1998) yang dilakukan hari Jumat, 12 Mei 2006 kemarin. Aksi yang dilakukan oleh 2 elemen massa yang terdiri dari mahasiswa trisakti dan aliansi peduli 12 Mei 1998 itu meneriakkan kekecewaan mereka akan sistem perundang-undangan di negeri ini yang hingga kini tidak secara gamblang menguak tabir insiden penembakan mahasiswa pada tahun 1998. 

Bahkan insiden 12 Mei yang menewaskan Hafifin Royan, Elang Mulia Lesmana, Hendriawan Sie, Hery Hartanto serta tragedi semanggi I dan II yang menewaskan Teddy Mardani, Sigit Prasetyo, Engkus Kusnadi,  BR. Norma Irmawan, Heru Sudibyo dan Yap Yun Hap, hanya di rekomendasikan sebagai insiden biasa dan bukan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat oleh Panitia Khusus DPR.

Aksi mahasiswa Trisakti diawali dengan renungan pada malam sebelumnya, yang lalu dilankutkan dengan upacara dan berangkatnya perwakilan dan kepresidenan mahasiswa Trisakti untuk beraudiensi dengan komisi III DPR. Selepas sholat Jumat, sekitar 1500 mahasiswa yang datang dari semua fakultas bergabung dihalaman kampus Trisakti dan menyusuri Jl. Gatot Soebroto menuju gedung DPR.

Digedung DPR, kurang lebih 100 orang dari aliansi peduli 12 Mei 2006 yang terdiri dari AKKRA, BEM ITI, FAMSI Atmajaya, GMNI UKI, GMNI UBK, KontraS, KOMPAK, LS-Adi, TPK 12 Mei tengah menyuarakan suara mereka yang kecewa dengan sikap DPR. Bergabung di tengah-tengah mereka, ibu Sumarsih, ibunda alm. BR. Norma Irawan (wawan) dan ibu Riarti Darwin, ibunda alm. Eten Karyana, mahasiswa fakultas Inggris yang meninggal di Jogja Plaza Klender ketika hendak menolong seorang anak kecil yang terperangkap api.

Aksi yang dilakukan kemarin berlangsung tertib, walau dengan tindakan polisi yang sedikit berlebihan dengan memasang kawat berduri ketika gabungan massa dari Aliansi peduli tiba dan langsung berdiri di depan pagar DPR. Ketika massa Trisakti datang, aksi kemudian diwarnai dengan orasi yang meminta DPR untuk segera menuntaskan kasus Trisakti, Semanggi I dan II serta kerusuhan Mei. Mereka menuntut agar DPR mencabut rekomendasinya yang menyatakan 12 Mei bukan pelanggaran HAM berat, membentuk pengadilan HAM ad-hoc, serta menjadikan 12 Mei sebagai hari pergerakan mahasiswa nasional.

Ketika aksi tengah berlangsung, pihak dari mahasiwa Trisakti masih menunggu kembalinya utusan yang beraudiensi dengan komisi III DPR. Namun ternyata penantian itu hanya berujung kekecewaan karena mereka hanya diterima oleh anggota komisi III, ibu Zahra dari fraksi PDI perjuangan dan tidak ada hasil yang bisa ditindak lanjuti.

Selanjutnya kedua elemen massa membubarkan diri dengan tertib setelah sebelumnya kembali berpawai ria di atas bus metro mini keliling jalanan protokoler Jakarta.

Sementara mahasiswa Trisakti kembali ke kampus untuk menggelar acara teaterikal dan rekontruksi penembakan 12 Mei, publik Jakarta seolah tidak ingat ketika 8 tahun yang lalu kita semua tercengang ketika melihat polisi yang menerobos membubarkan aksi mahasiswa dan meninggalnya Hafifin Royan, Elang Mulia Lesmana, Hendriawan Sie dan Hery Hartanto di halaman kampus Trisakti. Bagi sebagian besar publik Jakarta, hari Jumat kemarin adalah hari Jumat biasa, awal akhir minggu yang menggembirakan setelah 5 hari berkerja, dengan segala kemacetannya. (JA)

sumber

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: