Terminal III dan Perlindungan terhadap Buruh Migran

Terminal III dan Perlindungan terhadap Buruh Migran

Oleh: Lisa Noor Humaidah
Dalam kebijakannya mengenai pemulangan buruh ke Tanah Air, pemerintah selalu menyediakan terminal khusus bagi buruh migran yang akan kembali ke daerahnya masing-masing.

Penelitian tentang Sistem Transit untuk Pemulangan TKI di Terminal III Bandara Soekarno-Hatta yang dilakukan Institute for Ecosoc Rights menyebutkan, kebijakan penempatan pemulangan ini berlangsung sejak tahun 1986.

Penelitian yang sama juga menyebutkan, sejak tahun 1986 pengelola tempat transit berganti sampai 10 kali. Kebijakan terakhir pemulangan ini kemudian dikelola langsung oleh Koperasi Pelita Depnakertrans RI dengan tempat transit di Terminal III Bandara Soekarno-Hatta.

Dari 10 kali berganti pengelola, tidak ada kebijakan permanen yang mampu melindungi buruh migran. Pemerasan, penipuan, dan praktik percaloan tak pernah habis dan selalu berulang pada pola sama. Meskipun demikian, kebijakan menempatkan TKI/TKW pada ruang transit khusus tetap tidak berubah. Menurut Depnakertrans, pemisahan itu dimaksudkan agar proses pendataan serta keamanan dan kenyamanan TKI/TKW terjamin.

Kebijakan baru

Ketika pemerintahan berganti, muncul kebijakan baru. Depnakertrans mengeluarkan Surat Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor B 221/MEN/TKLN/IV/2005 yang mengatur keluarga tidak boleh menjemput buruh migran yang akan kembali ke kampung halaman untuk alasan keamanan TKI/TKW.

Berdasarkan hasil pemantauan tim Gerakan Perempuan untuk Perlindungan Buruh Migran (GPPBM) pada 2 Juni 2005, kebijakan baru ini menunjukkan semakin tertibnya pengaturan kepulangan buruh migran ke wilayah masing-masing. Tidak terlihat lagi calo yang sebelumnya berkeliaran di sekitar Terminal III.

Namun, buruh migran yang tinggal dekat bandara, seperti Tangerang dan Banten, mengeluh karena dijemput keluarga lebih nyaman dan biayanya lebih murah dibandingkan dengan menggunakan angkutan yang disediakan Depnakertrans. Masalah lain, mereka harus menginap beberapa hari di ruang transit, menunggu mendapat tiket pesawat atau kapal laut yang berarti harus membeli makan di kantin Terminal III yang harganya relatif lebih mahal.

Persoalan lain adalah pelayanan buruh migran yang menjadi korban. Data yang didapatkan GPPBM dari tim Satuan Tugas Terminal III pada 2 Juni 2005 menunjukkan, sekitar 14,8 persen TKI/TKW yang pulang melalui Terminal III mengalami masalah, seperti sakit, korban kekerasan, atau gaji yang tidak dibayar.

Jumlah buruh migran yang pulang melalui Terminal III ini pada bulan Januari-Mei 2005 adalah 122.702 orang atau rata-rata 818 orang per hari, 94 persen perempuan dan sisanya laki-laki.

Dalam melayani buruh migran bermasalah, terlihat belum ada penanganan menggunakan perspektif korban. Hal ini memang tidak sepenuhnya menjadi kesalahan petugas sebab petugas di sana bekerja hampir 24 jam nonstop. Jika dirata-rata secara kasar dengan memasukkan petugas yang melayani buruh migran sebanyak lima orang, per hari rata-rata mereka menangani 15 orang korban.

Salah satu cara mengatasi hal ini adalah membuat pelatihan penanganan korban dengan memakai perspektif korban dan penanganan trauma, serta menyediakan ruang istirahat tertutup bagi buruh migran yang terpaksa menginap di sana.

Membangun transparansi

Pekerjaan rumah berikutnya adalah transparansi dana pengelolaan. Berdasarkan Surat Menakertrans No 437.HK.33.2003, TKI/TKW yang pulang melalui Terminal III wajib membayar uang jasa pelayanan Rp 25.000. Merujuk data rata-rata buruh migran yang pulang melalui Terminal III di atas, jika per bulan 24.540 orang pulang, maka jumlah uang terkumpul Rp 613.500 juta. Dana ini cukup memadai untuk peningkatan pelayanan bagi buruh migran.

Digunakan untuk apa uang Rp 25.000 itu? Berdasarkan informasi petugas Satuan Tugas Depnakertrans, uang ini digunakan untuk 1) subsidi kepada TKW/TKI yang tidak memiliki uang untuk pulang, 2) membiayai TKW/TKI yang sakit, 3) biaya jasa ke perusahaan yang mempekerjakan porter (Rp 5.000/TKI), 4) biaya operasional komputer, 5) pemeliharaan fasilitas, 6) gaji karyawan swasta yang dipekerjakan satgas.

Kondisi pelayanan yang pas-pasan seperti di atas serta keluhan TKI/TKW bermasalah yang menginformasikan mereka tetap membayar uang transportasi setengah dari harga yang dipatok walaupun telah melapor dirinya tak mampu membayar (pemantauan GPPBM, 2 Juni 2005) membuktikan bahwa pelayanan bagi buruh migran di Terminal III belum optimal.

Harapan

Uraian di atas menyisakan harapan untuk perbaikan sistem perlindungan bagi buruh migran secara menyeluruh dan gagasan untuk memisahkan proses pemulangan buruh migran harus terus dikaji ulang.

Jika alasan yang dikemukakan adalah pendataan buruh migran yang baru tiba, mengapa tidak dibuat sistem yang memungkinkan pendataan dilakukan ketika mereka melalui Terminal II. Misalnya, pada desk pemeriksaan imigrasi dibuatkan jalur khusus bagi penumpang mantan buruh migran.

Jika Terminal III tetap dibutuhkan, mengapa tidak dibuat sistem di mana buruh migran bisa memilih cara pulang ke kampung. Di sana cukup disediakan ruang di mana mereka dengan mudah mengakses tata cara kepulangan yang mudah, aman, dan cepat, baik melalui Terminal II maupun Terminal III. Kebijakan memberi ruang khusus dan pelarangan orangtua untuk menjemput menunjukkan masih belum diberikannya hak mendasar buruh migran untuk memilih kebutuhannya sendiri.

Asumsi saya, kebijakan itu terkait dengan anggapan bahwa buruh migran bodoh, mudah ditipu, dan seterusnya. Justru pemecahannya adalah membangun sistem di mana mereka mudah mendapat informasi seluas-luasnya serta jaminan perlindungan seutuhnya sebagaimana diamanatkan UUD 1945.

Lisa Noor Humaidah Koordinator Divisi Perlindungan Kelompok Rentan Diskriminasi Komnas Perempuan dan Anggota Gerakan Perempuan untuk Perlindungan Buruh Migran

1 comment so far

  1. […] Terminal III dan Perlindungan Terhadap Buruh Migran […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: