Archive for September, 2004|Monthly archive page

Ralph Boyce Dikecam Berbagai Kalangan

CAMPUR TANGAN RALPH BOYCE DALAM KASUS BUYAT DIKECAM BERBAGAI KALANGAN
Kamis, 30 – September – 2004 11:00

LAPORAN : ARIES M SAUGI
JAKARTA-SURABAYAWEBS.COM

Sekitar 50 pengunjukrasa yang terdiri dari sejumlah perhimpunan mahasiswa dan tergabung dalam Lingkar Studi Aksi untuk Demokrasi Indonesia (LS-ADI), melakukan aksi unjukrasa di depan gedung Mabes Polri, Jakarta. Rabu (29/9). Dalam aksinya, mereka menentang segala bentuk intervensi yang dilakukan Dubes AS, Ralph Boyce dalam kasus pencemaran Teluk Buyat.

Juru bicara LS ADI, Wahyu Agung mengatakan permintaan Dubes AS yang meminta Kapolri agar menangguhkan penahanan terhadap lima pejabat PT.NMR yang sudah ditahan merupakan pelecehan terhadap proses hukum yang sedang berjalan. “Disisi lain, tindakan dubes AS itu, merupakan bentuk intervensi negara arogan yang ingin menang sendiri,”katanya.

Menurut dia, penahanan yang dilakukan penyidik Mabes Polri sudah benar. Sebab, dikhawatirkan para tersangka kasus tersebut melarikan diri, menghilangkan barang bukti atau mengulangi kejahatannya. Untuk itu, LS ADI mengingatkan Kapolri Jenderal Polisi Da’i Bachtiar tetap menahan para tersangka kasus Buyat dan tidak boleh ada diskrimnasi dalam penegakan hukum.

Pernyataan keras juga datang dari Komite Kerja Advokat Indonesia (KKAI). Melalui koordinatornya, Denny Kailimang, KKAI meminta pemerintah AS menghormati proses hukum yang sedang berjalan atas kasus Buyat. Selain itu, segala bentuk intervensi pemerintah asing dalam proses hukum yang sudah terlalu sering terjadi di Indonesia harus ditolak. KKAI mendukung upaya Mabes Polri dalam menuntaskan kasus Buyat dan meminta Polri tetap mandiri dan profesional dalam menjalankan tugasnya.

Koordinator Nasional Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Siti Maemunah mengatakan, tindakan dan sikap Dubes AS merupakan cara-cara primitif yang sering dilakukan pemerintah AS dalam upaya melindungi warga negaranya yang terlibat suatu kasus di luar negerinya.

“Lucunya, pemerintah AS selalu menerapkan standar ganda. Jika warga negaranya terlibat kasus maka pemerintah kita tidak punya hak untuk mengadilinya. Di sisi lain, pemerintah AS selalu menekankan adanya kepastian hukum agar pemodal dari negaranya mau menanamkan investasinya di Indonesia. Ini sikap yang mau menang sendiri,” paparnya.

Menurut dia, untuk menunjukkan kepada publik bahwa Polri tidak terpengaruh dengan permintaan Dubes AS, seharusnya Mabes Polri tidak usah ragu menahan Presiden Direktur PT Newmont Minahasa Richard Neiss. Sehingga ada perlakuan yang sama dengan tersangka lainnya yang telah lebih dulu ditahan.

Sementara itu, Rabu siang tadi, Dubes AS untuk Indonesia, Ralph L Boyce kembali menemui Kapolri Jenderal Pol Da’I Bachtiar di Mabes Polri, Jakarta. Menurut Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Paiman, kedatangan Boyce ke Mabes Polri bukan untuk membahas kasus pencemaran Teluk Buyat. “Beliau datang kesini hanya sekadar pamitan untuk selanjutnya berangkat ke Thailand sebagai duta besar di sana. Sama sekali pertemuan itu tidak menyinggung kasus pencemaran teluk Buyat,”kata Paiman.

Pertemuan yang berlangsung selama satu jam itu terkesan sangat tertutup terutama untuk kalangan pers. Bahkan, ketika Boyce akan meninggalkan Mabes Polri dengan menggunakan mobil BMW berwarna putih, puluhan wartawan yang berusaha mendekati Boyce untuk meminta keterangan dicegah sejumlah petugas Provost Mabes Polri.

Menurut Paiman, dalam pertemuannya dengan Kapolri , Boyce juga sempat mempertanyakan sudah sejauh mana perkembangan pengusutan kasus bom di Jl.Kuningan, Jakarta Selatan. “Ia juga mengungkapkan bahwa selama bertugas di Indonesia, Boyce sangat terkesan. Ia juga berharap semoga Dubes penggantinya kelak dapat bekerja lebih baik terutama dalam menjalin hubungan antar kedua negara,”katanya.***

Mahasiswa Demo Tolak AS Intervensi Kasus Buyat

Dian Intannia – detikcom

Jakarta – Sekitar 30 mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Ciputat Jakarta berunjuk rasa di Mabes Polri menolak intervensi AS terhadap kasus pencemaran limbah di Teluk Buyat.

Aksi diikuti mahasiswa yang tergabung dalam Lingkar Studi Aksi untuk Demokrasi Indonesia (LS-ADI Jakarta), Komite Mahasiswa dan Pemuda Anti Kekerasan dan Himpunan Mahasiswa Tangerang, digelar di pintu masuk Mabes Polri, Jakarta, Rabu (29/9/2004).

Mahasiswa yang datang dengan mengendarai metromini langsung menggelar orasi dan membentangkan spanduk serta poster bertuliskan ‘AS-Newmont Perusak Lingkungan Musuh Rakyat’, ‘Lawan AS, Lawan PT Newmont, Lawan Neo Liberalisme’ dan ‘Tolak Intevensi AS dalam Kasus Newmont’.

“Apapun alasan Amerika untuk meminta Kapolri menangguhkan penahanan tersangka Newmont merupakan pelecehan hukum di Indonesia dan merupakan bentuk intervensi negara arogan yang mau menang sendiri,” kata Humas LS-ADI Munajab dalam orasinya.

“Seperti Senin (27/9/2004) kemarin, Dubes AS Ralph L Boyce mendatangi Mabes Polri dan meminta warga negaranya untuk ditangguhkan penahanannya,” lanjutnya.

Dalam pernyataan sikap mahasiswa menyoroti pertemuan Presiden Megawati dengan Boyce pada Senin (27/9/2004) menunjukkan intervensi dan ancaman bahwa penahanan warga AS akan berdampak pada iklim investasi di Indonsia.

“Negara arogan seperti AS, sudah selayaknya tidak bercokol di Indonesia. Puluhan perusahaan tambang asing di Indonesia hanya menginvestasikan limbahnya. Sedangkan, modal mengalir ke negara mereka. Kami menyatakan sikap menolak intervensi AS dalam pencemaran di Teluk Buyat dan tuntaskan kasus Buyat secepatnya,” ungkap Munajab.

Aksi damai ini dijaga puluhan aparat. Rencananya, mahasiswa akan menuju kantor Kedubes AS, Jakarta untuk menyampaikan tuntutan yang sama.(aan/)

Sumber